Pengacara Rizieq Shihab: Terduga Teroris Condet Sudah Dipecat FPI Sejak 2017, Dia Antek Intelijen

Kuasa hukum Habib Rizieq Shihab, Aziz Yanuar, angkat bicara soal penangkapan Husen Al Hasny, terduga teroris yang dibekuk Densus 88 Antiteror di Condet, Jakarta Timur, pekan lalu. Menurut Azis, Husen Al Hasny, telah dipecat dari jabatannya sebagai Sekretaris Bidang Jihad DPW FPI Jakarta Timur periode 2015 2021. Azis pun menunjukkan capture surat resmi pemberhentian, yang dikeluarkan DPW FPI Jakarta Timur dengan ditandatangani Indra Lesmana selaku Plt Sekertaris DPW FPI Jakarta Timur.

"Ini bukti HH sudah dipecat FPI dari 2017. Sejak lama FPI sudah mencium ini adalah salah seorang dari banyak garapan operasi intelijen untuk pembusukan FPI," kata Aziz yang merupakan eks Wasekum FPI ini kepada Warta Kota, Senin (5/4/2021). Menurut Aziz Husen Al Hasny menjadi kaki tangan intelijen sehingga FPI memecatnya. "Dan terbukti saat ini, beberapa jadi corong dan agen pembusukan itu dengan bawa bawa nama FPI. Orang orang yang sudah dibuang dari FPI, karena jadi antek atau kaki tangan intelijen bukan lagi tanggung jawab FPI. Apalagi FPI sudah dibubarkan oleh para pandir," papar Aziz.

Sebelumnya empat terduga teroris yang dibekuk Densus 88 Antiteror di Jakarta, Kabupaten Bekasi dan Tangerang Selatan, mengaku sebagai simpatisan Front Pembela Islam (FPI). Salah satu dari empat terduga teroris itu adalah HH alias Husen Al Hasny, yang dibekuk di Condet, Jakarta Timur. Dalam video yang beredar, mereka mengaku hendak meledakkan SPBU demi menuntut dibebaskannya Habib Rizieq Shihab.

Selain itu mereka berencana meledakkan industri China dan menyerang orang keturunan Tionghoan dengan air keras. Menanggapi hal ini sebelumnya, Aziz Yanuar mengatakan bahwa FPI (Front Pembela Islam) sudah bubar. "FPI, Front Pembela Islam, sudah bubar. Itu fakta," katanya saat dikonfirmasi Warta Kota, Minggu (4/4/2021).

Terkait adanya terduga teroris yang mengaku simpatisan FPI, Aziz menilai itu adalah framing jahat pemerintah zalim dengan kolaborasi media Iblis. "Mengenai ada klaim dari eks anggota FPI yang pernah gabung FPI dulu dan saat ini menjadi terduga pelaku teror, maka itulah namanya framing jahat kolaborasi media Iblis dan Iblis operator isu jualan teror ini," kata Aziz. "Karena membuktikan FPI dengan aksi teror saat ini adalah tidak mungkin karena FPI nya sudah bubar. Kan yang bubarkan pemerintah zalim," tambah dia.

Karena yang membubarkan adalah pemerintah zalim, menurut Aziz, sangat tak relevan pula meminta pertanggungjawaban ke pihak yang sudah tidak eksis lagi sebagai sebuah entitas. "Itu artinya sudah zalim, tambah dungu dan pandir pula," ujarnya. Sebab kata dia, secara hukum, entitas yang sudah tidak ada alias almarhum, maka tidak bisa diminta pertanggungjawaban.

"Contoh, masa minta pertanggungjawaban sama kerajaan Majapahit terhadap kezaliman, kedunguan dan kepandiran penguasa saat ini," katanya. Ia menjelaskan pada 2015 lalu ada eks anggota suatu institusi negara yang nyata nyata mengaku ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. "Tapi tidak satupun media iblis dan iblis operator jualan isu teror, mengaitkan institusi itu dengan terorisme. Padahal itu fakta jika mau dikaitkan, tapi tidak dilakukan, kenapa?" tanyanya.

Ada juga, kata dia, anggota institusi negara tersebut yang menjual senjata ke kelompok separatis. "Tapi tidak disebut institusinya pendukung separatis yang ingin menghancurkan NKRI," kata Aziz. "Kenapa untuk institusi yang msh eksis dan anggotanya jadi anggota ISIS, tidak dikaitkan dengan teroris dan separatis pada institusinya?" kata Aziz.

Sementara kata dia, FPI yang nyatanya sudah bubar, masih juga dikaitkan dengan isu teroris. "Itulah namanya framing dan upaya pembusukan kepada FPI, yang sudah bubar," ujarnya. Dalam FPI, kata Aziz, ketika masih eksis secara entitas, maka orang orang yang sok radikal dan ngotot semaunya sendiri, pasti sudah dikeluarkan dari FPI.

"Dan orang orang tersebut tidak diterima di tubuh FPI yang wasathiah," katanya. Warga sekitar Adi (52) mengaku baru dengar Husein Hasny (HH) terduga teroris yang ditangkap di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, adalah eks simpatisan FPI yang menjabat sebagai wakil ketua bidang jihad. Adi menyatakan, Husein memang dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan tak pernah beraktivitas bersama warga sekitar.

Dia pun baru mengetahui Husein merupakan simpatisan FPI dari personel polisi yang sempat membeli jajanan di tempat dagangannya tersebut. "Dia orangnya tertutup dan jarang keluar rumah. Soal simpatisan FPI itu saya baru tahu kata Pak polisi yang kemarin ramai disini pada ngomong begitu," kata Adi di Jalan Condet Raya, Jakarta Timur, Selasa (30/3/2021). Diketahui, Polri memang sempat menyita sejumlah barang bukti saat penangkapan Husein.

Salah satu yang disita merupakan kartu anggota Husein dengan NIF: 11.03.05/004 yang menunjukkan pelaku sebagai eks Wakil Ketua Bidang Jihad FPI. Ia menyatakan, warga sekitar hanya mengenal Husein sebagai orang kaya raya. Sebab, tanah dan bangunan di sekitar kediamannya diketahui dalam kepemilikan dan disewakan oleh Husein Hasny.

Dia pun mengaku tak menyangka Husein Hasny terlibat dalam dugaan tindak pidana terorisme. "Yang ngontrak aja pada nggak tau apalagi saya. Paling cuman keluar bentar terus masuk lagi begitu. Kalau pagi doang sama lebaran," kata dia. Sebelumnya, Polda Metro Jaya mengamankan sejumlah barang bukti dari penangkapan 4 orang terduga teroris di Jakarta dan Bekasi pada Senin (29/3/2021).

Barang barang bukti tersebut diperlihatkan dalam rilis di gedung Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan. Barang bukti yang mencolok adalah seragam berwarna hijau bertuliskan FPI dan buku berjudul FPI dengan tajuk Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang diperkirakan setebal ratusan halaman. Tak hanya itu, Polri juga menyita poster dengan gambar eks pentolan FPI Rizieq Shihab yang bertuliskan Tabligh Akbar Aksi Bela Islam dan kalender serta kaus yang berkaitan dengan reuni alumni 212.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *